Tole Iskandar - Pahlawan Kota Depok

Berbeda dengan Margonda, informasi mengenai Tole Iskandar sedikit lebih jelas. Sepak terjang pahlawan ini di masa penjajahan Jepang sedikit banyak sudah tercatat dalam Perda Nomor 1/1999 tentang Hari Jadi dan Lambang Kota Depok.

Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, Heiho dan Peta (Pembela Tanah Air) dibubarkan. Putra-putra Heiho dan Peta kembali ke kampungnya. Mereka diperbolehkan membawa perlengkapan kecuali senjata. Setelah Indonesia merdeka 17 Agustus 1945, para pemuda Depok, khususnya bekas Heiho dan Peta terpanggil hatinya untuk berjuang.

Pada September 1945, diadakan rapat pertama kali di sebuah rumah di Jalan Citayam (sekarang Jalan Kartini). Hadir diantaranya seorang bekas Peta, yakni Tole Iskandar berikut tujuh orang bekas Heiho dan 13 orang pemuda Depok lainnya. Pada rapat tersebut diputuskan dibentuk Barisan Keamanan Depok yang keseluruhannya berjumlah 21 orang. Tole Iskandar akhirnya terpilih menjadi komandan. Merekalah cikal bakal perjuangan di Depok.

Saat itu, senjata yang dimiliki Barisan Keamanan ini hanya empat pucuk karaben Jepang. Itu pun hasil rampasan dari polisi Jepang yang bertugas di Depok. Kolonel Samuan, salah satu tim penyusun sejarah perjuangan di Bogor, ke 21 orang ini diberi nama Kelompok 21. Selengkapnya mereka adalah sebagai berikut:

  1. Tole Iskandar,
  2. Abdoelah,
  3. Saijan,
  4. Sainan,
  5. Sinan,
  6. Salam A,
  7. Niran,
  8. Saidi Botjet,
  9. Idan Saijan,
  10. Tamin,
  11. Joesoep,
  12. Salam B,
  13. Baoeng,
  14. Mahroep,
  15. Muhasim,
  16. Hasbi,
  17. Rodjak,
  18. Tarip,
  19. Kosim,
  20. Nadjid, dan
  21. Mamoen.

Sumber:
http://untoro.wordpress.com
http://babesajabu.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger