Ujian Akhir Nasional, gelaran nasional yang bertajuk uji kompetensi pencapaian akhir siswa, yang senantiasa menebar SENSASI.
Miris juga membicarakan UAN yang selalu jadi perdebatan tanpa solusi penyelesaian, sampai-sampai lembaga Negara sekelas MA ikut serta meramaikannya.
Miris juga membicarakan UAN yang selalu jadi perdebatan tanpa solusi penyelesaian, sampai-sampai lembaga Negara sekelas MA ikut serta meramaikannya.
Layaknya sebuah fenomena yang tidak ada ujung pangkalnya. Dari pembuat kebijakan , pelaksana Ujian sampai siswa yang kelabakan dengan standar yang pas-pasan, UAN seperti penebar ancaman.
Dapatkah dikatakan bijaksana jika kita dapat melihat atau sekedar hanya melirik UAN dari sisi lain yang lebih proporsional daripada sekedar Kontra Persepsi... atau Kontropersi. Yah minimal kita bisa melihat begitu banyak siswa dan parahnya termasuk kalangan pendidik (atau pengajar) mencoba menghalalkan segala cara untuk bisa melewati sekedar yang namanya Ujian Akhir Nasional, sampai-sampai yang mencoba sekedar jujur sudah di cap "idealis", apa iya kejujuran hanya sebuah idealisme?
Tidakkah (mungkin tepatnya bisakah?) menjadi lebih baik jika kita sebagai bangsa yang katanya besar mencoba menarik fenomena ini dari berbagai sudut pandang yang berbeda, ah.. itu mungkin terlalu luas dan akan memakan waktu yang panjang mengumpulkan banyak ide dan pendapat dari berbagai isi kepala orang-orang di republik ini.
Yah.. ringannya dan enaknya mungkin kita tanyakan aja kepada para pendidik kita yang terang-terangan dan jelas-jelasan mereka yang selama ini lebih mengerti akan para siswa-siswinya termasuk mengenai yang katanya kemampuan akademis para siswa tersebut, bukan hanya dari kacamata para orang tua siswa yang putra-putrinya akan melalui UAN dan telah melalui UAN tapi gak lulus.
Mungkin sudah saatnya bagi kita untuk mengetahui, kenapa sih? UAN yang target pencapaian nilai lulusnya cuma 5,5 (LIMA KOMA LIMA) seperti sebuah angka yang menakutkan dan tidak mungkin dicapai dan diperoleh oleh pelajar-pelajar kita, separah itukah?, sebegitu menakutkankah soal-soal UAN yang hanya 40 s/d 50 soal dengan waktu penyelesaian 120 menit dan 1 mata pelajaran perhari tersebut?
yah... gak tau deh...gelap, mungkin lebih baik Depdiknas melalui BSNP dah gak perlu pusing-pusing lagi mikirin kebijakan Pendidikan Nasional beserta Ujiannya, mungkin juga akan lebih menyenangkan buat para orang tua dan siswa-siswi penerus bangsa ini selain dibebaskan uang sekolahnya juga dibebaskan kelulusannya tanpa ujian dan segala macam tes, toh sebentar lagi (di era CAFTA) juga kita akan kebanjiran para tenaga professional berkompetensi tinggi dari negara-negara tetangga.
Ah ... alangkah bahagia dan senangnya hanya menjadi penonton dan tinggal menikmati segala hasil sumber daya yang dimiliki republik ini.

0 komentar:
Posting Komentar